Sembelit Pada Anak

Posted by ivayuvi on Friday Apr 6, 2012 Under Uncategorized

Tahukah Bunda?  Anak-anak pun memiliki kecenderungan mengalami sembelit seperti orang dewasa.  Bahkan mungkin lebih sering karena biasanya anak  tidak begitu suka makan makanan yang mengandung banyak serat.
Untuk anak-anak usia 3 tahun keatas, idealnya mereka pup (atau BAB/ Buang Air Besar ) setiap hari.  Ini normal bagi anak yang makan besar dua atau tiga kali sehari. Bunda harus mulai waspada dan mengambil tindakan jika anak hanya pup tiga kali atau kurang dalam seminggu.
Berikut adalah hal-hal yang bisa Bunda lakukan untk membantu mengatasi sembelit pada anak. Bahkan hal ini juga berlaku untuk orang dewasa lho!  Selamat menyimak :)

1. Minum lebih banyak air sepanjang hari
Anak-anak sangat aktif sehingga lebih banyak berkeringat.  Proses ini membuat tubuh kehilangan air, salah satu efeknya kandungan air pada kotoran  berkurang sehingga menjadi keras dan sulit dikeluarkan.  Minum banyak air putih akan sangat berguna bagi tubuh, kurangi minuman  bersoda, teh, dan minuman berpemanis.

2. Makan lebih banyak serat
Buah-buahan dan sayuran adalah makanan yang baik dan banyak mengandung serat.
Waktu terbaik untuk makan buah adalah pagi hari, karena waktu setelah bangun tidur dan menjelang siang adalah saatnya tubuh melakukan detoksifikasi. Mmmh… sepertinya sarapan buah atau segelas jus kurang familiar di masyarakat kita ya Bunda?
Buah juga dapat dijadikan cemilan diantara waktu makan, beri jeda antara 2-3 jam setelah makan, barulah makan buah. Hal ini akan membantu proses pencernaan.
Sayuran harus selalu hadir di setiap menu makan siang dan makan malam. Sayuran menyediakan air, serat, dan berbagai mineral dan vitamin yang diperlukan untuk pencernaan yang baik dan fungsi usus besar.

3. Jangan menunda-nunda BAB
Bunda perlu melatih anak-anak untuk segera  ke toilet ketika mereka mendapatkan panggilan alam untuk pup. Biasanya karena asyik bermain, anak-anak mengabaikan dorongan itu.  Kebiasaan menunda-nunda ini akan mengakibatkan sembelit.

4. Sebaiknya hindari serat buatan dan produk pencahar,  dikhawatirkan  serat  buatan akan menyebabkan usus kehilangan kepekaannya yang alami sehingga menjadi ketetergantungan pada produk.  Langkah terakhir jika hal-hal diatas dirasa tidak mengatasi masalah sikecil, alangkah baiknya Bunda mendatangi petugas kesehatan agar anak mendapatkan penanganan yang tepat.

Semoga bermanfaat ;)

Tags : , , , , , , , , | add comments

Menghentikan ketergantungan anak memakai botol (dot)

Posted by ivayuvi on Friday Sep 23, 2011 Under Uncategorized

Asi adalah makanan terbaik bagi bayi, namun sayang, karena satu dan lain hal, karena keadaan yang mendesak pastinya, beberapa bayi kurang beruntung karena diberi susu formula oleh orangtuanya.. Media yang dipakai untuk memberi susu ini biasanya botol dan dot steril. Namun lagi-lagi sayang, beberapa anak menjadi ketergantungan memakai alat ini hingga usia anak mencapai 2-3 tahun, bahkan ada yang sampai 5 tahun. Hmmm… selain berpotensi merusak gigi, tentu secara estetika kurang pantas anak seusia sekolah masih memakai botol dot untuk minum khan??

Bahkan ada sebagian kecil  orangtua yang memberikan makanan padat menggunakan botol dot.  Bubur bayi dimasukkan kedalam botol, kemudian ujung dot digunting sehingga terbentuk lubang yang cukup besar untuk keluarnya makanan. Sang bayi tinggal menyedot aja makanan dalam botol. Kedengarannya sangat praktis ya??  Hal seperti ini tidak layak ditiru ya bunda,  menghambat bayi belajar mengunyah makanan, sehingga mempengaruhi perkembangan motorik halusnya.. cmiiw ya!!

Sesegera mungkin latih anak untuk meninggalkan botol dotnya. Saat anak mulai bisa menggunakan sedotan, gunakan gelas+sedotan untuk minum susu.  Bisa anda gunakan gelas dengan model yang lucu-lucu, itu akan lebih menarik minatnya. Mungkin orangtua khawatir sang anak jadi rewel, berkurang volume minum susunya, atau bahkan menolak minum susu samasekali.  Para orangtua semestinya tidak perlu khawatir, semua itu mungkin terjadi selama proses, tapi hal ini bisa disiasati dengan lebih banyak memberikan makanan padat bergizi. Bagaimanapun juga, susu bukanlah “minuman dewa” yang dengan minum itu semua kebutuhan gizinya terpenuhi. Susu hanya pelengkap, sumber-sumber gizi lainnya justru banyak diperoleh dari makanan.

Dengan lebih banyak makanan yang dikonsumsinya, anak akan lebih kenyang, kebutuhan gizinya terpenuhi, berkurangnya frekuensi ngompol, dan tidak akan terbangun dimalam hari karena lapar dan meminta anda membuatkan susu.  Tentu sangat menyenangkan bukan?

Seiring makin bertambahnya usia, anak makin bisa memahami ucapan orangtuanya, berikan pengertian kalau dia tidak boleh lagi menggunakan botol dot.  Triknya, katakan bahwa sang anak “udah besar” atau jadikan dia sebagai “kakak”. Tidak perlu punya adik untuk menjadi kakak, anda bisa memakai bayi saudara atau bayi tetangga sebagai “adik” untuk menjadikan dia sebagai kakak :D .  Biasanya anak memiliki kebanggaan akan statusnya itu.. Kemudian tanamkan padanya bahwa sebagai anak yang sudah besar, dia tidak minum memakai botol dot lagi, hanya bayi yang minum menggunakan botol dot, tekankan tentang hal itu.  Kemudian, buatlah sebuah momen dimana sang anak memberikan botol dotnya ke adik kecilnya.  Ingat, harus dia sendiri yang memberikan botol dotnya ke sang adik .  Langkah terakhir yang diperlukan hanyalah kesabaran dan keteguhan orangtua. Jika anak jadi rewel dan meminta botolnya, ingatkan bahwa dia sendiri yang sudah memberikannya ke adik bayi.  Anda jangan sampai tergoda untuk memberi kelonggaran dengan memberikan kembali botolnya dengan alasan-alasan diatas.  Secara tidak langsung, anda telah mengajarkan anak mengenai disiplin, prinsip dan pendirian.

Bagaimana bunda? silahkan dicoba praktekin ya, boleh sharing disini hasilnya.. good luck!

 

 

 

Tags : , , , , , , , | 4 comments

Mencegah Penyakit Saluran Pernafasan

Posted by ivayuvi on Wednesday Sep 14, 2011 Under Uncategorized

Ada satu hal yang selalu diingatkan oleh salah satu manajemen Jepang ditempatku bekerja dulu setiap selesai senam pagi.  Pesannya adalah, cuci tangan dan berkumurlah setiap anda kembali dari bepergian.  Pada tangan dan mulut, terdapat banyak sekali kuman-kuman penyebab penyakit terutama penyakit saluran pernafasan (ISPA- Infeksi Saluran Pernafasan Akut  ** cmiiw ya.. :D ) seperti radang tengggorokan, flu dan batuk.  Kita tidak dapat membayangkan sudah memegang apa tangan kita selama kegiatan diluar rumah itu.  Apakah kita memegang benda-benda yang sebelumnya dipegang orang yang sedang sakit flu, batuk, atau penyakit lain misalnya??  Ngeri rasanya jika kuman dan virus yang menempel di tangan kita bisa dilihat dengan mata telanjang… hiiii..

Sebagai orang Indonesia, sepertinya budaya ini tidak begitu populer di negara kita.  Sebagai orang tua, kenapa tidak kita mulai menanamkan kebiasaan ini pada putra/putri kita?  Toh hal ini bermanfaat bagi kita sendiri, apalagi anak-anak, kita pasti tidak menginginkan hal yang buruk terjadi pada anak kita, sakit misalnya.  Tangan adalah bagian tubuh yang paling banyak berinteraksi dengan benda-benda disekitar kita.  Disisi lain, bagian tubuh yang paling sering disentuh dengan tangan  adalah wajah.  Masuk akal jika kemudian kuman atau virus penyebab penakit yang menempel ditangan masuk kedalam tubuh melalui wajah dan terutama mulut.  Dengan mencuci tangan dan berkumur, kita telah meminimalisir kemungkinan sumber penyakit masuk kedalam tubuh.

Anak-anak adalah perekam dan penjiplak yang handal.  Jika kita menanamkan kebiasaan yang baik pada anak, maka tidak mustahil anak akan meneruskan kebiasaan baik pada generasi berikutnya, sehingga tercipta budaya yang sehat.  Budaya mencuci tangan, kaki dan menggosok gigi sebelum tidur, bisa ditambahkan dengan mencuci tangan dan berkumur setiap kembali dari bepergian, bermain, dan aktifitas diluar rumah lainnya.  Dimulai dengan hal-hal yang kecil, akan memberikan manfaat yang besar..

Tags : , , , , , , , , , , , , , | 6 comments

Merawat Rambut Anak

Posted by ivayuvi on Wednesday Sep 14, 2011 Under Uncategorized

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya memiliki rambut yang sehat.  Kebanyakan orang tua berfikir bahwa rambut yang bagus bisa dimiliki karena faktor keturunan.  Akan tetapi, meskipun faktor keturunan ikut berpengaruh,  jika tidak dilakukan perawatan yang baik terhadap rambut anak, tetap saja rambut yang dimiliki anak berpotensi rusak dan tidak sehat.

Ketika bayi dilahirkan, adakalanya sang bayi memiliki rambut yang begitu bagus.  Rambut yang hitam dan lebat menghiasi kepala mungilnya.  Sudah menjadi kewajiban kita sebagai muslim untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang melekat pada bayi, salah satunya dengan mencukur rambut bayi.  Tapi, terkadang rambut yang tumbuh tidak sebagus rambut saat dia dilahirkan.  Rambut barunya menjadi merah, tumbuh tidak merata, dan tipis.  Sebagai orangtua kita tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi seperti itu, karena hal itu umum dialami bayi.

Seiring dengan pertumbuhan bayi, rambutnya pun akan tumbuh.  Meskipun ada yang pertumbuhan rambutnya lambat.  Ibu harus mengkonsumsi makanan bergizi untuk menghasilkan asi yang berkualitas, yang banyak mengandung zat-zat yang sangat berguna bagi pertumbuhan bayi dan rambutnya, seperti sayuran hijau (kangkung/bayam), wortel, kacang-kacangan (kacang hijau, kacang merah, kacang tanah), telur, daging unggas, dan  ikan.

Bayi gampang sekali mengeluarkan kotoran lewat keringatnya. Karena itu cucilah rambut bayi setiap hari.  Tetapi, perhatikan pula kondisi cuaca dan lingkungan. Jika udara sangat dingin, atau anda tinggal di daerah berhawa sejuk, frekuensi keramas bisa dikurangi.

Saat anak beranjak besar dan rambutnyapun memanjang, anda bisa lebih sering memotong rambut anak.  Hal ini bisa dilakukan setiap 5-6 minggu.  Cukup memotong ujung-ujung rambutnya.  Ujung rambut cenderung tidak sehat karena suplai nutrisi yang kurang dari kulit kepala. Dengan memotong ujung rambut, anda telah menghilangkan rambut kurang sehat tersebut.  Selain itu, memotong rambut juga memicu tumbuhnya rambut-rambut baru, sehingga memungkinkan anak memiliki rambut yang lebih tebal.

Jagalah kebersihan kulit kepala dan rambut anak anda.  Anda bisa mencuci rambut anak anda setiap hari  atau dua hari sekali, tergantung cuaca, kondisi kesehatan dan keaktifan anak anda.  Terlalu sering keramas ( misalnya 2x dalam satu hari -  mandi pagi &sore) berpotensi menghilangkan kelembaban alami rambut, sehingga rambut menjadi kering.  Setelah keramas, jangan menggosok-gosok handuk untuk mengeringkan rambut, hal ini akan menyebabkan rambut bercabang.  Penggunaan hair dryer juga sebaiknya dihindari, karena bisa menyebabkan rambut kering.  Cara terbaik adalah membiarkan rambut kering secara alami dengan diangin-anginkan.

Usaha lain yang bisa dilakukan adalah memberikan nutrisi pada rambut anak.  Anda bisa menggunakan lidah buaya atau seledri.  Tanamlah lidah buaya di  pekarangan anda, selain untuk keindahan rumah anda, tanaman ini juga bisa anda manfaatkan saat anda membutuhkannya. Sedangkan seledri, bisa anda dapatkan dengan mudah di penjual sayur langganan anda :) .  Caranya, ambil setangkai lidah buaya, cuci bersih, diamkan sehari agar getahnya luluh, sehingga saat digunakan, kepala tidak menjadi gatal.  Gosok-gosokkan daging bagian dalam lidah buaya pada kulit kepala anak, biarkan kurang lebih 1 jam, kemudian keramaslah seperti biasa.  Jika anda ingin menggunakan seledri, ambil beberapa batang seledri, cuci bersih, kemudian diremas-remas atau diblender dengan sedikit air. Air sarinya digunakan seperti creambath pada rambut dan kulit kepala anak.  Biarkan kurang lebih 1 jam, kemudian keramas.  Seperti yang kita ketahui, kedua tumbuhan tersebut bermanfaat untuk menyuburkan rambut.  Jika anda telaten, hasil terbaik bisa anda dapatkan.  Sebaiknya proses ini dilakukan pada kondisi yang santai,  saat anak bermain sore hari misalnya, sebelum waktu mandi sore anak anda, untuk menghindari anak merasa bosan dan jenuh saat anda mengaplikasikan nutrisi rambut alami anda pada si kecil.

Saran lain, cermatlah memilih cairan pembersih rambut (shampoo).  Ketidakcocokan terhadap shampoo ditandai dengan kepala gatal, rambut rontok, kering, kusut, rambut menjadi merah, ataupun rambut menjadi lengket.  Kita pasti tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada puta/putri kita.

Semoga bermanfaat.

 

Tags : , , , , , , , , , , | 4 comments

Merawat Gigi Anak

Posted by ivayuvi on Tuesday Aug 16, 2011 Under Uncategorized

Gigi anak harus mulai dirawat sedini mungkin.  Semenjak anak masih bayi,  bersihkan gusi bayi dengan mengusapkan kain lembut yang dibasahi air matang hangat kuku setelah disusui. Hal ini sangat membantu untuk mencegah penumpukan bakteri di mulut.  Ketika gigi mulai muncul, gunakan kain kassa steril yang dibasahi air matang hangat untuk mengusap gigi dengan pelan dan hati-hati untuk membersihkan sisa-sisa makanan di gigi. Pada usia ini, biasanya bayi sudah mulai diberi makanan padat.  Penggunaan kain kassa karena kain ini memiliki tekstur, sehingga diharapkan gigi bayi akan bersih.

Saat anak Anda mencapai usia prasekolah, mulailah  diajari menyikat gigi. Gunakan sedikit saja pasta gigi yang mengandung fluoride, karena anak-anak belum bisa berkumur sehingga cenderung untuk menelan pasta gigi.  Ada sumber yang menyebutkan jika fluoride terlalu banyak dapat menyebabkan noda permanen pada gigi. Fluorida memperkuat gigi dengan pengerasan email gigi. Meskipun fluorida merupakan bagian penting dari kesehatan gigi anak, hindari penggunaan yang berlebihan. Sumber lain bahkan ada yang menyatakan sebaiknya jangan menggunakan pasta gigi, sampai anak mencapai usia 6 tahun.

Anak-anak umumnya menderita gigi berlubang. Lubang gigi terbentuk ketika bakteri dalam mulut memproses gula dalam makanan membentuk asam yang menggerogoti gigi.  Untuk mencegah gigi berlubang, hindari memberi anak terlalu banyak makanan manis seperti permen dan minuman manis.  Perbanyak minum air putih, buah-buahan dan sayuran segar, keju dan crackers adalah makanan yang baik untuk gigi.  Selain itu, jangan biarkan anak terlalu lama menggunakan botol (dot), ajari sesegera mungkin menggunakan gelas atau cangkir.

Seluruh anggota keluarga harus merawat gigi mereka.  Orangtua adalah contoh bagi anak, karenanya orangtua harus memberikan teladan yang baik.  Menggosok gigi dua kali sehari dan mengunjungi dokter gigi setiap enam bulan adalah hal yang disarankan para ahli kesehatan gigi.

Tags : , , , , , , , | 21 comments